MENGENAL HAL PENTING PADA PETA




            Seiring berkembangnya jaman, manusia mulai mencari cara agar dapat memvisualisasikan fenomena-fenomena geografikal yang amat luas agar mempermudah dalam melakukan perencanaan wilayah tempat tinggalnya. Salah satu caranya adalah dengan membuat peta.
Peta adalah suatu representasi/gambaran unsur-unsur atau kenampakan-kenampakan abstrak, yang dipilih dari permukaan bumi, atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan (ICA, 1973 dalam Sukwarjono dan Mas Sukoco,1993)
Semua peta-peta merupakan pengecilan dari permukaan bumi atau benda angkasa, yang disiapkan menurut ukuran geometris pada suatu bidang datar, dengan simbol yang digeneralisir untuk mewakili kenampakan-kenampakan sebenarnya (Sukwardjono dan Mas Sukoco, 1993).
Menurut Sukwardjono dan Mas Sukoco tahun 1993, suatu informasi dapat disebarkan dan dilaporkan dengan suatu cara yaitu komunikasi. Metode komunikasi dapat bermacam-macam, yaitu ada metode dengan bahasa tulis menulis, bahasa lisan, penggunaan angka. Untuk metode yang digunakan dalam komunikasi dengan cara grafis dapat terdiri dari fotografi, sampai ke peta, grafik, dan diagram. Dalam suatu sistem komunikasi, apapun caranya mempunyai hal yang sama, yaitu secara umum komunikasi mempunyai jaringan yang secara sedehana terdiri dari :
1. sumber (source of information)
2. saluran yang menyalurkan informasi tersebut (channel)
3. orang yang menerima informasi itu (receipient) 

PERKEMBANGAN PETA 

Peta sendiri telah memiliki berbagai macam bentuk seiring perkembangan jaman, antara lain :

·         Zaman Prasejarah
Sejak 2300 SM oleh bangsa Babilonia, pengetahuan tentang teknik menggambar lokasi /sesuatu yang menunjukkan suatu tempat sudah ada. Pada mulanya peta digambarkan pada batu atau tanah liat berukuran kecil sebagai petunjuk arah.

·         Era tahun  sebelum  tahun  1800
Pada periode pertengahan, lebih tepatnya abad ke 15 – 17, pembuatan peta pada abad ini masih menggunakan tangan dan disebarluaskan secara terbatas. Masih banyak kesalahan-kesalahan yang terdapa pada peta seperti informasi orientasi yang tidak sesuai atau skala yang tidak ptoporsional.

·         Era tahun 1800-1900
Peta mulai dipakai untuk pengumpulan data melalui sensus tahun 1800-an, setelah itu atematis. Seperti yang dilakukan John Snow saat terjadi epidemi kolera tahun 1855. Dokter Inggris ini menerakan titik di peta pemukiman tiap kali ada korbani tewas. Akhirnya, tampak di sekitar pompa air di Broad Street paling banyak tanda titik. Benar, di sanalah sumber infeksi.

·         Era tahun 1900-2000
Pada tahun 1960, peta mulai dikenal sebagai litografi foto (pemisahan menjadi beberapa lapisan/layer). Pada 1967, peta juga mulai dikembangkan system informasi geografis – SIG Canada untuk inventarisasi lahan. Dan pada 1970, pengembangan digitalisasi komputer untuk analisis berbasis peta seperti vendor software SIG seperti CARIS, ESRI, Mapinfo. Data-data yang diolah dalam sistem informasi geografis (SIG) ini pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut, dimana data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan sedangkan data atribut merupakan data non spasial yang berfungsi menjelaskan berbagai objek pada data spasial tersebut. Dengan demikian analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut.

Bentuk penyajian data spasial mempunyai tiga cara dasar yaitu dalam titik (point), garis (line) dan area (polygon). Titik merupakan interpretasi tunggal dari koordinat x,y yang menunjukkan lokasi suatu obyek tertentu seperti ketinggian, lokasi kota, titik ke dalaman, lokasi sarana prasarana, lokasi pengambilan sampel survey dan lain-lain. Garis merupakan sekumpulan titik-titik yang membentuk suatu tampilan memanjang seperti jalan, sungai, kontur ketinggian, kontur ke dalaman, jalur pelayaran dan lain-lain. Sedangkan area adalah kenampakan yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama dan membentuk suatu ruang yang memiliki informasi homogen, misalnya batas daerah, batas penggunaan lahan, pulau, kawasan konservasi,

·         Era WebGIS
Seiring dengan perkembangan zaman ke era digital, pembuatan peta pun beralih menggunakan berbagai peralatan. Perkembangan awal digitalisasi peta adalah dengan menggunakan bantuan meja digitizer, dimana meja tersebut dikoneksikan pada perangkat lunak pengolahan peta dan perangkat keras komputer. Perkembangan teknologi internet  yang pesat, menjadikan peta sebagai bagian dari system informasi geografis. Pengembangan WebGIS dengan memanfaatkan web dan perangkat mobile untuk menyebarkan data geografis yang lebih interaktif .
            Dalam pembuatan peta dapat dilakukan dengan koordinat maupun proyeksi, proyeksi peta pada umunya secara sistematis memerlukan perhitungan-perhitungan untuk mentransformasikan garis-garis gratikul bujur dan lintang bumi di atas bidang datar. Setiap Proyeksi peta mengakibatkan distorsi jarak. Proyeksi Peta berisi tentang:
1.      Gratikul garis-garis yang mempresentasikan paralel-paralel lintang dan meridian-meridian bujur atau
2.      Grid peta yaitu sistem koordinat kartesian persegi panjang yang ditumpang susun terhadap peta atau suatu penggambaran dari permukaan bumi yang mempunyai karakteristik dan ketelitian tertentu sehingga dapat mengidentifikasi lokasi di permukaan bumi terhadap lokasi lainya yang juga dipakai untuk perhitungan arah dan jarak terhadap titik lain.

Karakteristik dan Fungsi Peta Sebagai Media Visualisasi Produk Perencanaan Spasial
Aturan atau ketentuan yang menjadi dasar dan acuan dalam desain dan visualisasi peta agar memberikan hasil yang baik dan efektif merupakan termasuk pengertian kaidah kartografi.
Kraak dan Ormeling (1996) menyebut kaidah kartografis dengan istilah cartographic grammar atau cartographic rule, dan bermanfaat untuk memperbaiki transfer informasi dengan menggunakan karakteristik murni berbagai karakteristik simbol grafis.
Dua sumber pustaka utama berbahasa Inggris, tentang kaidah kartografis bagi peta garis, disarikan dari Keates (1989) dalam “Cartographic design and production”, dan dari Robinson dkk. (1995) dalam “Element of cartography”. Pada dasarnya, kedua sumber tersebut secara prinsip memiliki kesamaan pemahaman dan konsistensi. Dalam kaidah kartografis terdapat simbol kartogrfis yang di dalamnya terdapat Semiologi kartografis, yaitu pemikiran teoretis tentang simbol kartografis, yaitu hubungan simbol dengan fenomena yang disajikan dan keefektifannya dalam mengkomunikasikan informasi kepada pengguna peta (Boss, 1977 dalam (Handoyo 2009). Simbol kartografis memiliki dua kategori dasar, yaitu elemen grafis dan variabel grafis. Elemen grafis terdiri atas simbol titik, simbol garis dan simbol luasan (area).
Dalam penerapannya, elemen grafis dikombinasikan dengan variabel grafis yang di antaranya adalah unsur bentuk, dimensi (ukuran), warna, nilai (value), orientasi, dan kerapatan. Kombinasi-kombinasi ini digunakan untuk simbolisasi fenomena kualitatif dan kuantitatif. Agar perbedaan simbol dipersepsi hanya sebagai perbedaan kualitatif, maka harus dipersepsi sebagai memiliki nilai sama. Jika satu warna akan dipersepsi jauh lebih gelap dari yang lain, maka perbedaan dalam tingkatan akan dialami juga, dimana warna yang lebih gelap yang menjelaskan wilayah yang berbeda dan lebih penting daripada wilayah yang lebih terang. Dalam prakteknya, warna yang lebih gelap hanya bisa digunakan untuk merepresentasikan informasi kualitatif untuk wilayah yang kecil, jika tidak demikian maka akan terlalu banyakmendominasi gambar (Menno dan Ferjan, 2007). Pada saat membicarakan karakteristik persepsi sebagai deretan tanda-tanda grafis, kita berhadapan dengan berbagai perbadaan mendasar dalam sifat-sifat simbol grafis yang kita beda-bedakan. Menurut Bertin tahun 1983 dalam Menno dan Ferjan tahun 2007, semua perbedaan yang bisa diimajinasikan antara simbol, dapat disimpulkan sebagai kasus enam variabel grafis.

Referensi :
Kurnia, Anwar. 2006. IPS Terpadu SMP Kelas VII. Jakarta: Yudhistira.
Ips Geografi,Hal : 5, Penerbit : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.2002.Solo, Penulis : Drs. Kuswanto,MM.dkk.)
ICA, 1973 dalam Sukwarjono dan Mas Sukoco,1993
Oemar, Kammarudin. 2006. Sejarah Eropa Cendekia Insani. Pekanbaru

Komentar